Jelajahi Surat
1
Al-Fatihah
7 ayat
الفاتحة
2
Al-Baqarah
286 ayat
البقرة
3
Ali 'Imran
200 ayat
اٰل عمران
4
An-Nisa'
176 ayat
النساۤء
5
Al-Ma'idah
120 ayat
الماۤئدة
6
Al-An'am
165 ayat
الانعام
7
Al-A'raf
206 ayat
الاعراف
8
Al-Anfal
75 ayat
الانفال
9
At-Taubah
129 ayat
التوبة
10
Yunus
109 ayat
يونس
11
Hud
123 ayat
هود
12
Yusuf
111 ayat
يوسف
13
Ar-Ra'd
43 ayat
الرّعد
14
Ibrahim
52 ayat
ابرٰهيم
15
Al-Hijr
99 ayat
الحجر
16
An-Nahl
128 ayat
النحل
17
Al-Isra'
111 ayat
الاسراۤء
18
Al-Kahf
110 ayat
الكهف
19
Maryam
98 ayat
مريم
20
Taha
135 ayat
طٰهٰ
21
Al-Anbiya'
112 ayat
الانبياۤء
22
Al-Hajj
78 ayat
الحج
23
Al-Mu'minun
118 ayat
المؤمنون
24
An-Nur
64 ayat
النّور
25
Al-Furqan
77 ayat
الفرقان
26
Asy-Syu'ara'
227 ayat
الشعراۤء
27
An-Naml
93 ayat
النمل
28
Al-Qasas
88 ayat
القصص
29
Al-'Ankabut
69 ayat
العنكبوت
30
Ar-Rum
60 ayat
الرّوم
31
Luqman
34 ayat
لقمٰن
32
As-Sajdah
30 ayat
السّجدة
33
Al-Ahzab
73 ayat
الاحزاب
34
Saba'
54 ayat
سبأ
35
Fatir
45 ayat
فاطر
36
Yasin
83 ayat
يٰسۤ
37
As-Saffat
182 ayat
الصّٰۤفّٰت
38
Sad
88 ayat
ص
39
Az-Zumar
75 ayat
الزمر
40
Ghafir
85 ayat
غافر
41
Fussilat
54 ayat
فصّلت
42
Asy-Syura
53 ayat
الشورى
43
Az-Zukhruf
89 ayat
الزخرف
44
Ad-Dukhan
59 ayat
الدخان
45
Al-Jasiyah
37 ayat
الجاثية
46
Al-Ahqaf
35 ayat
الاحقاف
47
Muhammad
38 ayat
محمّد
48
Al-Fath
29 ayat
الفتح
49
Al-Hujurat
18 ayat
الحجرٰت
50
Qaf
45 ayat
ق
51
Az-Zariyat
60 ayat
الذّٰريٰت
52
At-Tur
49 ayat
الطور
53
An-Najm
62 ayat
النجم
54
Al-Qamar
55 ayat
القمر
55
Ar-Rahman
78 ayat
الرحمن
56
Al-Waqi'ah
96 ayat
الواقعة
57
Al-Hadid
29 ayat
الحديد
58
Al-Mujadilah
22 ayat
المجادلة
59
Al-Hasyr
24 ayat
الحشر
60
Al-Mumtahanah
13 ayat
الممتحنة
61
As-Saff
14 ayat
الصّفّ
62
Al-Jumu'ah
11 ayat
الجمعة
63
Al-Munafiqun
11 ayat
المنٰفقون
64
At-Tagabun
18 ayat
التغابن
65
At-Talaq
12 ayat
الطلاق
66
At-Tahrim
12 ayat
التحريم
67
Al-Mulk
30 ayat
الملك
68
Al-Qalam
52 ayat
القلم
69
Al-Haqqah
52 ayat
الحاۤقّة
70
Al-Ma'arij
44 ayat
المعارج
71
Nuh
28 ayat
نوح
72
Al-Jinn
28 ayat
الجن
73
Al-Muzzammil
20 ayat
المزّمّل
74
Al-Muddassir
56 ayat
المدّثّر
75
Al-Qiyamah
40 ayat
القيٰمة
76
Al-Insan
31 ayat
الانسان
77
Al-Mursalat
50 ayat
المرسلٰت
78
An-Naba'
40 ayat
النبأ
79
An-Nazi'at
46 ayat
النّٰزعٰت
80
'Abasa
42 ayat
عبس
81
At-Takwir
29 ayat
التكوير
82
Al-Infitar
19 ayat
الانفطار
83
Al-Mutaffifin
36 ayat
المطفّفين
84
Al-Insyiqaq
25 ayat
الانشقاق
85
Al-Buruj
22 ayat
البروج
86
At-Tariq
17 ayat
الطارق
87
Al-A'la
19 ayat
الاعلى
88
Al-Gasyiyah
26 ayat
الغاشية
89
Al-Fajr
30 ayat
الفجر
90
Al-Balad
20 ayat
البلد
91
Asy-Syams
15 ayat
الشمس
92
Al-Lail
21 ayat
الّيل
93
Ad-Duha
11 ayat
الضحى
94
Al-Insyirah
8 ayat
الشرح
95
At-Tin
8 ayat
التين
96
Al-'Alaq
19 ayat
العلق
97
Al-Qadr
5 ayat
القدر
98
Al-Bayyinah
8 ayat
البيّنة
99
Az-Zalzalah
8 ayat
الزلزلة
100
Al-'Adiyat
11 ayat
العٰديٰت
101
Al-Qari'ah
11 ayat
القارعة
102
At-Takasur
8 ayat
التكاثر
103
Al-'Asr
3 ayat
العصر
104
Al-Humazah
9 ayat
الهمزة
105
Al-Fil
5 ayat
الفيل
106
Quraisy
4 ayat
قريش
107
Al-Ma'un
7 ayat
الماعون
108
Al-Kausar
3 ayat
الكوثر
109
Al-Kafirun
6 ayat
الكٰفرون
110
An-Nasr
3 ayat
النصر
111
Al-Lahab
5 ayat
اللهب
112
Al-Ikhlas
4 ayat
الاخلاص
113
Al-Falaq
5 ayat
الفلق
114
An-Nas
6 ayat
الناس
← Daftar Surat
Qari:

الصّفّ

As-Saff

Madinah Barisan • 14 AYAT

1
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

📖 Baca Tafsir
Segala apa yang di langit dan bumi mengakui bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah tidak ada yang lain, Dialah yang menciptakan, menguasai, menjaga kelangsungan hidup, serta menentukan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, dan semua makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan tujuan yang Dia kehendaki, serta sesuai pula dengan kegunaannya.
2
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn(a).

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

📖 Baca Tafsir
Setelah Allah menerangkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, ia mengingatkan kaum Muslimin akan kekurangan-kekurangan yang ada pada mereka, yaitu mereka mengatakan suatu perkataan, tetapi mereka tidak merealisasikan atau mengerjakannya. Di antaranya, mereka berkata, "Kami ingin mengerjakan kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah," tetapi jika datang perintah itu, mereka tidak mengerjakannya. Ada dua macam kelemahan manusia yang dikemukakan ayat ini, yaitu: 1.Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan mereka. Kelemahan ini kelihatannya mudah diperbaiki, tetapi sukar dilaksanakan. Sangat banyak manusia yang pandai berbicara, suka menganjurkan suatu perbuatan baik, dan mengingatkan agar orang lain menjauhi larangan-larangan Allah, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas bahwa 'Abdullah bin Rawahah berkata, "Para mukmin pada masa Rasulullah sebelum jihad diwajibkan berkata, "Seandainya kami mengetahui perbuatan-perbuatan yang disukai Allah, tentu kami akan melaksanakannya." Maka Rasulullah menyampaikan bahwa perbuatan yang paling disukai Allah ialah beriman kepada-Nya, berjihad menghapuskan kemaksiatan yang dapat merusak iman, dan mengakui kebenaran risalah yang disampaikan Nabi-Nya. Setelah datang perintah jihad, sebagian orang-orang yang beriman merasa berat melakukannya. Maka turunlah ayat ini sebagai celaan akan sikap mereka yang tidak baik itu. 2.Tidak menepati janji yang telah mereka buat. Suka menepati janji yang telah ditetapkan merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri orang-orang yang beriman. Jika ciri itu tidak dipunyai oleh orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, berarti ia telah menjadi orang munafik. Rasulullah saw bersabda:Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berjanji, ia menyalahi janjinya, bila berkata, ia berdusta dan bila dipercaya, ia berkhianat. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Namun tidak berarti bahwa orang-orang tidak boleh mengatakan kebenaran bila ia sendiri belum mampu melaksanakannya. Mengatakan kebenaran wajib, sedangkan melaksanakannya tergantung kemampuan. Allah berfirman: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (at-Tagabun/64: 16)
3
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf‘alūn(a).

Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.

📖 Baca Tafsir
Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Hal ini berlaku baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat. Menepati janji merupakan perwujudan iman yang kuat. Budi pekerti yang agung, dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat. Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji tanda iman yang lemah, serta tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam di dalam masyarakat. Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya. Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.
4
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

Innallāha yuḥibbul-lażīna yuqātilūna fī sabīlihī ṣaffan ka'annahum bun-yānum marṣūṣ(un).

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur dan persatuan yang kokoh. Allah menyukai kaum Muslimin yang demikian. Tidak ada celah-celah perpecahan, walau yang kecil sekali pun, seperti tembok yang kokoh yang tersusun rapat dari batu-batu beton. Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar mereka menjaga persatuan yang kuat dan persatuan yang kokoh, mempunyai semangat yang tinggi, suka berjuang, dan berkorban. Membentuk dan menjaga persatuan serta kesatuan di kalangan kaum Muslimin berarti menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin menimbulkan perpecahan, seperti perbedaan pendapat tentang sesuatu yang sepele dan tidak penting, sifat mementingkan diri sendiri, membangga-banggakan suku dan keturunan, mementingkan golongan, tidak berperikemanusiaan, dan sebagainya. Oleh karena itulah, dalam membina persatuan dan kesatuan, Allah memperingatkan dan memerintahkan kaum Muslimin menjaga dan mengatur saf (barisan) dalam salat dengan rapi, bahu-membahu, tidak ada satu pun tempat yang kosong. Tempat yang kosong akan diisi oleh setan, sedangkan setan adalah musuh manusia. Tidak baik jika seseorang salat sendirian di belakang saf, kecuali dengan menarik ke belakang seorang yang berada dalam saf yang di depannya. Mengatur barisan dalam salat merupakan latihan mengatur barisan dalam berjihad di jalan Allah.
5
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Wa iż qāla mūsā liqaumihī yā qaumi lima tu'żūnanī wa qad ta‘lamūna annī rasūlullāhi ilaikum, falammā zāgū azāgallāhu qulūbahum, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn(a).

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, mengapa kamu menyakitiku? Padahal, kamu sungguh mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu.” Maka, ketika mereka berpaling (dari perintah Allah), Allah memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

📖 Baca Tafsir
Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab tentang Nabi Musa yang menyesali kaumnya, mengapa mereka menentang dan menyakitinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka. Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Musa memerintahkan kaumnya berperang agar mereka bisa memasuki kota Baitulmakdis, tetapi kaumnya mengingkari. Allah berfirman: Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi. Mereka berkata, "Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk." (al-Ma'idah/5: 21-22) Ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar selalu bersabar menghadapi sikap orang-orang munafik, yang mengaku dirinya muslim, tetapi di belakang Rasulullah mereka mengingkarinya. Sehubungan dengan itu, Rasulullah pernah bersabda, "Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa yang disakiti kaumnya lebih berat daripada yang terjadi pada diriku ini, tetapi ia tetap sabar." Allah melarang kaum Muslimin menyakiti hati Rasulullah Muhammad saw, seperti yang telah dialami oleh Nabi Musa. Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (al-Ahzab/33: 69) Setelah orang-orang yang durhaka dan menyakiti hati Nabi Muhammad itu berpaling dan mengingkari kebenaran, sedangkan mereka mengetahui kebenaran itu, Allah pun memalingkan hati mereka dari petunjuk-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mungkin lagi mendapat petunjuk. Allah berfirman: Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An'am/6: 110) Maksud perkataan Allah "memalingkan hati orang-orang kafir" dalam ayat ini ialah membiarkan mereka dalam keadaan sesat. Semakin banyak kesesatan dan kemaksiatan yang mereka perbuat, semakin jauh pula mereka dari petunjuk Allah, sehingga sulit bagi mereka kembali ke jalan yang benar. Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan pernyataan-Nya di atas bahwa orang yang telah jauh dari jalan yang benar tidak mungkin lagi memperoleh taufik dan hidayah dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang fasik, sedangkan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
6
وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Wa iż qāla ‘īsabnu maryama yā banī isrā'īla innī rasūlullāhi ilaikum muṣaddiqal limā baina yadayya minat-taurāti wa mubasysyiram birasūliy ya'tī mim ba‘dismuhū aḥmad(u), falammā jā'ahum bil-bayyināti qālū hāżā siḥrum mubīn(un).

(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

📖 Baca Tafsir
Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka. Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad saw). Dalam ayat yang lain ditegaskan pula bahwa berita tentang kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah terakhir terdapat pula dalam Kitab Taurat dan Injil. Allah berfirman: (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (al-A'raf/7: 157) Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah sebagai penutup para nabi. Sesungguhnya Nabi Adam bagaikan batu permata. Aku akan mengabarkan kepadamu tentang penakwilan ayat tersebut, yaitu doa bapakku Nabi Ibrahim dan kabar gembira dari Nabi Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku dan sekalian ibu para nabi. (Riwayat Ahmad dari 'Irbadh bin Sariyah) Dalam kitab Taurat banyak disebutkan isyarat-isyarat kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti Kitab Kejadian 21: 13. "Maka anak sahayamu itu pun akan terjadikan suatu bangsa, karena itu ia dari benihmu." Maksudnya ialah keturunan Hajar, ibu dari Ismail yang kemudian menjadi orang-orang Arab yang mendiami Semenanjung Arabia. Waktu Nabi Ibrahim pergi ke Mesir bersama istrinya, Sarah, beliau dianugerahi oleh Raja Mesir seorang hamba sahaya perempuan, yang bernama Hajar, yang kemudian dijadikannya sebagai istri. Sewaktu Hajar telah melahirkan putranya Ismail, ia diantarkan Ibrahim ke Mekah atas perintah Allah. Di Mekahlah Ismail menjadi besar dan berketurunan. Di antara keturunannya itu bernama Muhammad yang kemudian menjadi nabi dan rasul terakhir. Kitab Kejadian 21: 18 memerintahkan agar Bani Israil mengikuti dan menyokong Nabi Muhammad, yang akan datang kemudian. "Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia, karena Aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar." Demikian pula dengan Kitab Kejadian 17: 20 menyebutkan: "Maka akan hal Ismail itu pun telah Kululuskan permintaanmu, bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan memberikan dia dan memperbanyak dia amat sangat dua belas orang raja-raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia suatu bangsa yang besar." Kitab Habakuk 3: 3 menyebutkan: "Bahwa Allah datang dari teman dan Yang Mahasuci dari pegunungan Paran-Selah. Maka kemuliaan-Nya menudungilah segala langit dan bumi pun adalah penuh dengan pujinya." Di sini diterangkan tentang teman dan orang-orang suci dari pegunungan Paran. Yang dimaksud dengan teman di sini adalah Nabi Muhammad, dan Paran adalah Mekah. Demikian pula Nabi Musa dalam Kitab Ulangan 18: 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw itu: "Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa), "Benarlah kata mereka itu (Bani Israil)." Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu Nabi dan Bani Israil) yang seperti engkau (Nabi Musa) dan aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak pada orang itu. Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Ku-suruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya. Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian, "Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya?" Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya tidak jadi atau tidak datang, yaitu perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun berkata dengan sembarangan, janganlah kamu takut akan dia." Dalam ayat-ayat Taurat di atas terdapat petunjuk-petunjuk nubuwwah Nabi Muhammad saw sebagai berikut, "Seorang Nabi di antara segala saudaranya." Hal ini menunjukkan bahwa yang akan menjadi nabi itu akan muncul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri, karena Bani Israil itu keturunan Yakub dan ia adalah anak Ishak. Sedangkan Ishak adalah saudara Ismail. Saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail, dan Nabi Muhammad sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail. Kemudian kalimat "yang seperti engkau" memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya nabi yang membawa agama seperti yang dibawa Nabi Musa. Seperti dituliskan bahwa Nabi Muhammad itulah satu-satunya nabi yang membawa syariat yang berlaku juga bagi Bani Israil. Kemudian dikatakan bahwa Nabi itu "tidak sombong", "dan tidak akan mati dibunuh." Muhammad saw seperti dimaklumi bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi apalagi setelah menjadi nabi. Sebelum menjadi nabi, ternyata beliau telah disenangi oleh khalayak umum, dan dipercaya oleh orang-orang Quraisy. Hal ini terbukti dengan panggilan beliau al-Amin (kepercayaan). Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak diberi gelar yang sangat terpuji itu dan Nabi Muhammad tidak mati di bunuh. Umat Nasrani menerapkan kenabian itu kepada Isa, padahal mereka percaya bahwa Isa mati disalib. Hal ini jelas bertentangan dengan ayat kenabian itu sendiri. Sebab nabi itu haruslah tidak mati dibunuh (disalib dan sebagainya). Banyak lagi petunjuk di dalam Taurat yang menerangkan kenabian Muhammad saw seperti yang diberikan Nabi Yesaya 42: 1-2; Nabi Yermin 31: 31-32, Nabi Daniel 2: 38-45; dan masih banyak lagi yang tidak perlu disebutkan di sini. Demikian pula dalam kitab Injil di mana tentang Muhammad banyak disebut dalam kitab Yahya. Kemudian diterangkan bahwa nabi dan rasul yang bernama Ahmad itu lahir dengan membawa dalil-dalil yang kuat serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah. Akan tetapi, mereka pun mengingkarinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir. Tentang Nabi Muhammad itu disampaikan oleh semua nabi, dijelaskan Allah dalam firman-Nya: Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami setuju." Allah berfirman, "Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu." (Ali 'Imran/3: 81)
7
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعٰىٓ اِلَى الْاِسْلَامِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Wa man aẓlamu mimmaniftarā ‘alallāhil-każiba wa huwa yud‘ā ilal-islām(i), wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn(a).

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diseru kepada (agama) Islam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

📖 Baca Tafsir
Allah menyatakan, "Siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang mengada-adakan sesuatu tentang Allah", seperti mengatakan bahwa Allah mempunyai sekutu dalam mengatur alam ini. Dari ayat ini dipahami bahwa orang yang paling zalim ialah orang yang diajak memeluk agama Allah, agama yang benar dan membawa manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat yaitu Islam, mereka menolak ajakan itu. Bahkan mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, seperti mendustakan Nabi Muhammad, memandang Al-Qur'an sebagai sihir ciptaan tukang sihir yang bernama Muhammad, dan sebagainya. Orang-orang yang mengada-adakan kebohongan tentang Allah itu berarti menganiaya diri mereka sendiri, dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan itu tidak akan memperoleh taufik dari Allah.
8
يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Yurīdūna liyuṭfi'ū nūrallāhi bi'afwāhihim, wallāhu mutimmu nūrihī wa lau karihal-kāfirūn(a).

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.

📖 Baca Tafsir
Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas bahwa wahyu pernah tidak turun kepada Nabi Muhammad selama empat puluh hari. Maka seorang pemuka Yahudi, yaitu Ka'ab bin al-Asyraf, meminta kepada orang-orang Yahudi agar bergembira karena Allah telah memadamkan cahaya dakwah Muhammad saw dengan tidak lagi menurunkan wahyu kepadanya. Mendengar ucapan Ka'ab itu Rasulullah merasa sedih. Berkenaan dengan itu turunlah ayat ini. Pada ayat ini diterangkan alasan orang-orang yang berbuat kebohongan terhadap Allah. Perbuatan dosa dan ucapan mengada-ada itu bertujuan untuk memadamkan sinar agama Islam yang menerangi manusia yang sedang berada dalam kegelapan. Perbuatan mereka itu tak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan cahaya matahari yang menyilaukan pemandangan dengan hembusan mulutnya yang tidak berarti apa-apa. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah akan tetap memancarkan sinar agama-Nya ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.
9
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ

Wa huwal-lażī arsala rasūlahū bil-hudā wa dīnil-ḥaqqi liyuẓhirahū ‘alad-dīni kullih(ī), wa lau karihal-musyrikūn(a).

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

📖 Baca Tafsir
Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad dengan tugas menyampaikan agama-Nya kepada seluruh manusia. Pokok-pokok agama itu terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis, yang berisi petunjuk untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan munculnya agama Islam, maka agama yang ada sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Agama Islam itu mengungguli agama-agama lain sesuai dengan kehendak Allah, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
10
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū hal adullukum ‘alā tijāratin tunjīkum min ‘ażābin alīm(in).

Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?

📖 Baca Tafsir
(10-11) Dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan amal saleh dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka.” Ungkapan ayat di atas memberikan pengertian bahwa amal saleh dengan pahala yang besar, sama hebatnya dengan perniagaan yang tak pernah merugi karena ia akan masuk surga dan selamat dari api neraka. Firman Allah: "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka". (At-Taubah/9:111) Kemudian disebutkan bentuk-bentuk perdagangan yang memberikan keuntungan yang besar itu, yaitu: 1.Senantiasa beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya hari Kiamat, qada‘ dan qadar Allah. 2.Mengerjakan amal saleh semata-mata karena Allah bukan karena ria adalah perwujudan iman seseorang. 3.Berjihad di jalan Allah. Berjihad ialah segala macam upaya dan usaha yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ada dua macam jihad yang disebut dalam ayat ini yaitu berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta. Berjihad dengan jiwa dan raga ialah berperang melawan musuh-musuh agama yang menginginkan kehancuran Islam dan kaum Muslimin. Berjihad dengan harta yaitu membelanjakan harta benda untuk menegakkan kalimat Allah, seperti untuk biaya berperang, mendirikan masjid, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umum lainnya. Di samping itu, ada bentuk-bentuk jihad yang lain, yaitu jihad menentang hawa nafsu, mengendalikan diri, berusaha membentuk budi pekerti yang baik pada diri sendiri, menghilangkan rasa iri, dan sebagainya. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa iman dan jihad itu adalah perbuatan yang paling baik akibatnya, baik untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, harta benda, dan masyarakat, jika manusia itu memahami dengan sebenar-benarnya.
11
تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ

Tu'minūna billāhi wa rasūlihī wa tujāhidūna fī sabīlillāhi bi'amwālikum wa anfusikum, żālikum khairul lakum in kuntum ta‘lamūn(a).

(Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

📖 Baca Tafsir
lihat ayat 10
12
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ

Yagfir lakum żunūbakum wa yudkhilkum jannātin tajrī min taḥtihal-anhāru wa masākina ṭayyibatan fī jannāti ‘adn(in), żālikal-fauzul-‘aẓīm(u).

(Jika kamu beriman dan berjihad,) niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.

📖 Baca Tafsir
Diriwayatkan oleh at-Tirmidhi dan al-hakim dan dinyatakan sahih dari 'Abdullah bin Salam bahwa ketika para sahabat Rasulullah sedang duduk-duduk santai sambil berbincang-bincang, di antara mereka ada yang berkata, "Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai Allah pasti kami akan mengerjakannya," maka turunlah ayat ini. Jika manusia beriman, mengakui kebenaran Rasulullah saw dan berjihad di jalan-Nya, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya atau menjauhkannya dari perbuatan dosa itu. Allah juga menyediakan tempat bagi mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tempat di dalam surga adalah tempat yang paling indah, dan paling menyenangkan hati orang yang berada di dalamnya.
13
وَاُخْرٰى تُحِبُّوْنَهَاۗ نَصْرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Wa ukhrā tuḥibbūnahā, naṣrum minallāhi wa fatḥun qarīb(un), wa basysyiril-mu'minīn(a).

(Ada balasan) lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini diterangkan kemenangan dan keuntungan yang akan diperoleh oleh Rasulullah dan kaum Muslimin di dunia, yaitu mereka akan dapat mengalahkan musuh-musuh mereka, menaklukkan beberapa negeri dalam waktu yang dekat, memberikan kedudukan yang baik bagi kaum Muslimin, serta kekuatan iman dan fisik. Dengan demikian, mereka berkuasa di Timur dan Barat, dan agama Islam tersebar di seluruh dunia. Ayat ini termasuk ayat yang menerangkan kemukjizatan, yaitu menerangkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hal ini dipercayai betul oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, sehingga menumbuhkan kekuatan dan semangat yang hebat di kalangan kaum Muslimin. Dalam sejarah terlihat dan terbukti bahwa dalam waktu yang sangat singkat agama Islam telah dianut oleh sebagian penduduk dunia, sejak dari ujung barat Afrika sampai ujung timur Indonesia, dari Maroko ke Merauke, dan dari Asia Tengah di utara sampai ke Afrika di selatan. Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin mengenai keuntungan yang akan mereka peroleh dari perdagangan itu di dunia dengan keuntungan-keuntungan dan di akhirat berupa surga. Penggunaan kata perniagaan dalam ayat ini sebagai perumpamaan karena masyarakat Arab pada saat itu hidup dari perniagaan dan perdagangan.
14
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْٓا اَنْصَارَ اللّٰهِ كَمَا قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيّٖنَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۗقَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِ فَاٰمَنَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَكَفَرَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ ۚفَاَيَّدْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلٰى عَدُوِّهِمْ فَاَصْبَحُوْا ظٰهِرِيْنَ ࣖ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū kūnū anṣārallāhi kamā qāla ‘īsabnu maryama lil-ḥawāriyyīna man anṣārī ilallāh(i), qālal-ḥawāriyyūna naḥnu anṣārullāhi fa'āmanaṭ-ṭā'ifatum mim banī isrā'īla wa kafaraṭ-ṭā'ifah(tun), fa'ayyadnal-lażīna āmanū ‘alā ‘aduwwihim fa'aṣbaḥū ẓāhirīn(a).

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah para penolongku menuju kepada (pertolongan) Allah?” Para pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.” Maka, segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kufur. Lalu, Kami menguatkan orang-orang yang beriman menghadapi musuh-musuh mereka sehingga menjadi orang-orang yang menang.

📖 Baca Tafsir
Allah memerintahkan kaum Muslimin agar menjadi penolong-penolong agama Allah, menyebarluaskan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya sehingga tidak ada yang mengalahkannya, dengan beriman dan berjihad. Hal yang sama pernah dilakukan sahabat-sahabat terdekat Nabi Isa yang berkata kepada mereka, "Siapakah penolong agama Allah?" Mereka menjawab, "Kamilah penolong-penolong agama Allah." Ketika Nabi Isa menyampaikan risalahnya kepada Bani Israil dengan bantuan sahabat-sahabat setianya, sebagian Bani Israil itu ada yang memperkenankan seruannya, sedang yang lain ada yang mengingkari dan menolaknya. Mereka yang menolak itu menuduh Isa sebagai seorang anak zina, yang dilahirkan karena perzinaan ibunya Maryam dengan seorang laki-laki, dan ada pula yang mengatakan bahwa Isa itu putra Allah, kekasih-Nya, dan sebagainya. Dalam menghadapi orang-orang yang mengingkari seruan Nabi Isa itu serta mengada-adakan kebohongan tentangnya, maka Allah menguatkan hati orang-orang yang beriman dari mereka, sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh itu. Firman Allah: Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (Gafir/40: 51)